Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

the one with the thinking..

9 september 2009...

Ketika ia menguasai kehidupan, namun tak pernah menyadarinya.....

Setelah menghantar dia pergi, lambat ia buka tirai jendela teras. Angin musim dingin masih terasa kuat menghampiri saat ia duduk diteras. Hujan hari ini, tak deras, hanya rintik yang berkawan dengan angin menerpa pohon yang mulai bersemi, berbunga merah muda. Indah. Diam dia duduk memandangi butir air yang membasahi seluruh taman.

Tak terasa sudah enam bulan ia ditempat ini, tapi rasa asing masih kadang merasuki. Rasa asing yang kemudian ia beri nama Rindu. Rindu pada keluarga yang ia sayangi, rindu pada kota yang sesak yang ternyata sangat ia cintai, rindu pada sahabat-sahabat yang ternyata tak pernah ia miliki. Rindu pada keteraturan hidup yang dulu ia benci. Rindupun jadi alasan bagi segala risau hati.

Namun pagi ini Rindu tak datang, mungkin ia hilang terhapus rintik hujan atau pergi setelah pembicaraan semalam? tak tahu yang mana yang benar namun hari ini alam nampak berbeda, dingin hari nampak lebih ceria.

Tak banyak hal yang ia lakukan diteras depan, duduk sambil memandang jalan kemudian mencoba membaca buku yang diberikan oleh seorang kawan enam bulan yang lalu sebelum ia pergi untuk tinggal bersama kekasih hati.

Buku yang ia terima tanpa pernah ia buka dan ia baca. Pada buku yang tak pernah dibuka terlampir surat yang tak pernah terbaca. Surat pun menghantarkan nya pada halaman buku tebal yang rasa nya segan untuk dibaca,malas untuk berfikir hela nya. Ia hanya ingin duduk memandang pohon yang bersemi, berbunga warna merah muda. Satu hal yang tak pernah bisa ia lakukan karna ia selalu berkerja untuk menepis rindu yang seringkali menggoda.

Dengan malas hati akhir nya ia pun membaca buku tebal pada halaman-halaman yang dibuka sekenanya. Setelah beberapa lama, ternyata sudah lebih dari 10 halaman ia baca. Kalimat terakhir yang diingatnya adalah Pikirkan dan syukurilah. Kalimat pendek dengan besar makna, membuat nya teringat Rindu. Rindu yang ia jadikan kambing hitam jika hati risau menyapa. Rindu atau lidah yang kurang mengucap syukur pada Nya?

Ternyata ia menguasai kehidupan tapi tak pernah menyadarinya, sehat badan, kekasih hati yang selalu jadi sahabat terdekat dan segala kesempatan yang Dia berikan tak pernah tampak, tertutup risau hati pada masa lalu dan kenangan lampau yang semu dan ketakutan pada masa depan yang belum datang.

Harus nya ia katakan, masa lalu sudah tenggelam dan angin akan selalu melaju kedepan, begitu juga air mengalir kedepan dan biarkan hari esok datang dengan sendirinya, tak perlu menanyakan kabar atau bergelut dengan dugaan,bermain dalam angan-angan berkepanjangan. Karena apa yang di punya ada di hari ini bukan kelam dan gula-gula kenangan masa lalu, atau pula dugaan esok hari.

Harus nya ia sadari, bahwa Dia yang Maha Kuasa menyayangi dirinya sepenuh hati, dengan segala kesempatan dan nikmat yang Dia beri....

******

Surat yang yang tak pernah terbaca...

Dear Ibeth,

Selamat menempuh hidup baru, new life, new place,new journey you'll be great, i just know it you're a survivor, you'll survive anything stay though, even things aren't always as they seem...

Blog EntryJul 9, '09 5:27 AM
for everyone
Perasaan baru kemarin bikin postingan soal "mi 26 bday", dan ga terasa bentar lagi akan nulis " mi 27 bday'...gosh..time goes so fast.....

Blog EntryMay 3, '09 7:24 PM
for everyone
Pagi datang, kelam pun menghilang....mentari bersinar menerawang dalam bilik berukuran sedang. Dalam dingin pagi mencoba berjalan, berniat meminum secangkir kopi semoga bisa menghangatkan badan, empat derajat celcius pagi ini, begitu berita mengumumkan....

Sofa panjang berwarna hijau terbentang diam dalam ruangan, bersisian dengan jendela bertirai hijau muda, serasi berdampingan dengan warna sofa yang diam. Diluar tampak pohon besar yang kulit nya mulai berganti putih mungkin karena pertukaran cuaca...Dengan secangkir kopi hitam berkilat-kilat ditangan, mengepul uap ke udara mengumbar bau tajam nikmat tiada tara berteriak-teriak menghimbau rasa...bangun hai kawan bersemangat lah, pagi telah tiba...lekas kau jelang hari dengan segera....

Pukul 7.45 a.m tercantum pada jam diatas meja.. "masih ada waktu satu jam"... bergumam ia dalam keseorangan. Tenggelam dalam besarnya sofa, terhening dengan indahnya lukisan alam di luar jendela. Lambat-lambat dia reguk panasnya kopi, agar lama terasa nikmatnya pada lidah. Tak terasa hampir dua bulan ia disini, dibenua paling kecil didunia. Australia, nama yg diberikan oleh Gubenur Macquarie sejak 4 April, 1627. Sebuah negara yang terletak dipaling bawah, dibulatnya bola dunia. Negara yang terlupakan, jika saja ia tak bersekutu dengan Inggris dan Inggris tidak membuat koloni baru didalamnya. Ahh sejarah, terlalu panjang untuk diuraikan, sesaknya...

Satu jam lagi ia harus segera bersiap, namun dinginnya pagi belum juga usai. Rasa malas mengelayut dalam langkah ingin berkemas. Pada keseorangan dan dinginnya pagi, rasa rindu pada dia yang disana pun lambat-lambat menyerang...namun jalan harus ditapak, terang harus dikejar...

The heart is stronger than you think
It's like it can go through anything
And even when you think
It can't it finds a way to still push on through

Sometimes,
You want to run away
Ain't got the patience for the pain
And if you don't believe it
Look into your heart the beat goes on

I'm tellin' you that
Things get better, through whatever
If you fall dust it off, don't let up
Don't you know you can go
Be your own miracle...



Blog EntryApr 29, '09 6:27 PM
for everyone
Udah lama ga nulis yah disini, ternyata kangen juga...berhubung sedang menata segala sesuatu dalam hidup, jadi saya up date foto2 dulu aja yah....insyallah tulisan nya menyusul...huaaaaa kangeeeennnnn........

Blog EntryJan 6, '09 3:23 AM
for everyone

Blog EntryJun 27, '08 2:05 AM
for everyone

In the orchard and rose garden

I long to see your face.

In the taste of Sweetness

I long to kiss your lips.

In the shadows of passion

I long for your love.

 

Oh! Supreme Lover!

Let me leave aside my worries.

The flowers are blooming
with the exultation of your Spirit.

 

By Allah!

I long to escape the prison of my ego

and lose myself
in the mountains and the desert.

 

These sad and lonely people tire me.

I long to revel in the drunken frenzy of your love
and feel the strength of Rustam in my hands.

 

I’m sick of mortal kings.

I long to see your light.

With lamps in hand
the sheiks and mullahs roam
the dark alleys of these towns
not finding what they seek.

 

You are the Essence of the Essence,

The intoxication of Love.

I long to sing your praises
but stand mute
with the agony of wishing in my heart.

 

** Rumi**


Blog EntryMay 5, '08 12:17 AM
for everyone
You're a pert time lover and a full time friend
The monkey on your back is the latest trend
 
                                                               I dont see what anyone can see,
                                                                               in anyone else, but you..
 
Here the church and here is the steeple
we sure are cute for two ugly people...
 
 
 
 
                                                I dont see what anyone can see,
                                                                      in anyone else, but you...
 
 
We both have shiny happy fits of rage
 
 
 
 
                                                                              
                                                                     I want more fans....
 
 
 
you want more stage...
 
 
 
 
 
 
You're always trying to keep it real
 
 
and im in love with how you fell...
 
 
 
 
I dont see what anyone can see, in anyone else
but you..
 
 
 
 
 
I kiss you on the brain in the shadow of a train
I kiss you all starry-eyed, my body swings from side to side
 
 
 
 
 
 
I dont see what anyone can see, in anyone else
but you..
 
 
 
 
 
 
 
 
* Taken from "Juno" for the cheese of my macaroni ^_^ ...

Blog EntryApr 28, '08 5:31 AM
for everyone
...I sat there waiting. waiting for nothing
Enjoying, beyond good and evil, now
The light, now the shade; there was only
The day, the lake, the noon, time without end...
 
I make songs and sings them; and when I make a songs,
I laugh, cry and hum; thus I praise God. With singging,
crying, laughing and humming, i praise the God who is my God...
 
***
...Aku menanti. Menanti kehampaan
Menikmati, melampui baik dan buruk, sekarang
Cahaya dan bayangan; yang ada hanya
Hari, danau, siang, waktu tak berujung...
 
...Aku mencipta lagu dan menyanyikannya
dan sementara aku mencipta lagu aku tertawa, menangis
dan bersenandung demikian lah aku memuja Tuhan.
Sambil berdendang, menangis, tertawa dan bersenandung
kupuja Tuhan yang memang Tuhanku...
 
 
** senja hari sebelum pulang, terdengar sumbang kata tak keluar dari hati
    pada Kau yang punya hidup, pada Kau yang punya mati...
 

Blog EntryApr 3, '08 9:13 PM
for everyone
Awal mula kami berkenalan aku sudah lupa, belum lama kurasa, belum sampai setahun. Namun aku merasa sangat mengenalnya. Kebaikan hati dan ketulusannya adalah hal yang paling kuingat dari segala awal perkenalan kami. Fatima Zahra nama gadis itu, tokoh utama dalam kisah hatiku. Srikandi dalam kisah pewayanganku. Kulitnya sawo matang dengan bibir yang tipis dan ditambah dengan hidung yang mancung. Sebuah wajah yang selalu menghiasi hari-hariku. Entah ia tahu atau tidak, telah lupa aku sejak kapan bermula mengaguminya, kekaguman yang kemudian merambat menjadi sebuah perasaan sayang. Rasa sayang ini tak berlebihan kurasa, dekatnya kami toh tak terbantahkan. Bahkan kuyakinkan diri bahwa ia juga menyayangiku, sampai berita itu datang.
 
Seperti hari-hari sebelumnya saat makan siang kami duduk berdampingan, seperti biasa pula kutanyakan bagai mana kuliahnya hari ini lalu apa hasil tugasnya yang kemarin dan ia akan menjawab dengan santai kalau semuanya lancar tugasnya pun mendapatkan hasil yang memuaskan. Jawaban yang sering sekali kudengar karena ia memang perempuan pintar, satu alasan lagi mengapa aku menyayanginya. Namun kali ini wajahnya tampak berbeda, matanya lebih berbinar dan tampak lebih ceria. "Aku jatuh cinta" itu kalimat yang kudengar dengan samar, walau tak yakin dengan pendengaranku tetap kujawab dengan santai "dengan siapa?", "dengan nya" terurai jawaban lewat kerlingan mata. Tampak sosok yang telah kukenal akrab namun tak pernah kami bersapa, Awan Satrio. Kuberbisik pada hatiku, mencoba bernegosiasi agar ia tak bergemuruh dan bergejolak. "Kenapa dia?" sekali lagi aku yakinkan pandanganku dengan bertanya. "Kamukan sudah tahu kalau dia sudah mendekatiku dalam beberapa waktu dan rasanya aku tak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan mu" senyuman itu manis sekali fikirku tanpa mau mendengar jawaban yang ia berikan. "yah sudah" jawabku sekenanya, tegak melenggang menjauh dari dirinya. "kenapa begitu? kamu tidak senang?" dari bibirnya pertanyaan berdatangan. "Aku ada kuliah" sigap aku menentang. "Baiklah, nanti malam aku telfon" senyum manis itu kembali mengembang. Aku berjalan menghindar kedalam gedung utama, tak hiraukan bahwa aku tak ada kelas siang ini. Namun aku harus pergi dari hadapannya, kalau tidak debaran ini pasti akan cepat terbaca.
 
Malamnya, ia tepati janji, "Ari, aku ingin bercerita" terdengar kegembiraan pada suaranya. "Kami sudah jadi pasangan, Awan dan aku. Sore tadi, saat ia antarkan aku pulang" celotehnya tanpa peduli aku diam pada tiap ujung percakapan. "Ari, kenapa diam? tidak senangkah kau? terdengar gelisah pada kalimatnya. "Senang, alasan apa tidak senang? aku hanya tak enak badan. Pening, mungkin darah rendahku." aku mulai beralasan untuk tutupi perasaan yang berontak mendengar kabar yang dibawa. Malam itu ia tak lama ia menelfon, tak seperti hari-hari sebelumnya dimana kami dapat bertukar cerita dan sang waktu tak bisa membatasi kami.
 
Setelah menelfon aku kembali kekamar, merenung apa benar tindakan yang aku lakukan, sampai kapan aku harus menghindar. Tuhan aku tahu, aku telah salah letakkan rasa ini padanya. Aku tahu dosaku sangat besar jika kuteruskan begelut dalam harap tuk bersamanya. Tuhan apa yang harus aku lakukan, sungguh perasaan ini baru kali ini aku rasakan. Padahal banyak sekali kawanku yang perempuan, namun kenapa padanya perasaan ini timbul??
 
Hari-hari kemudian terasa tak menyenangkan, hubungan kami mulai renggang. Di kampus kulihat ia makin sering berjalan beriringan dengan Awan dan untuk membunuh asa, ku palingkan pandangan. Darinya tak pernah putus pertanyaan, kenapa aku jarang terlihat dalam pandangan. Tapi sungguh tak mungkin  aku biarkan hati yang utarakan alasan. Mungkinkah aku katakan, aku cemburu. Cemburu pada awan yang kini menutupi rembulan.
 
Hari ini aku tak bisa menghidar lagi karena aku telah berjanji, jauh sebelumnya untuk hantarkan ia pada ibundanya di selatan kota Bandung. Pagi benar sekitar jam enam aku sudah ada didepan pintu kosnya, pintu yang kini telah lama tak kusambangi. Setelah ketukan kedua, pintu pun terbuka. Ia persilahkan aku masuk dengan sebuah senyuman, aku rindu bisikku dalam jiwa. "Ayo berangkat" kupecah keheningan dengan sebuah ajakan. "Tunggu sebentar, Awan belum datang" katanya kemudian. "Oh, dia datang juga, ikut mengantar kah?" kurendahkan suara, agar cemburu tak kentara. "Hanya antar sampai stasiun, aku juga ingin kenalkan kau dengannya. Akan kukenalkan kawan baikku sedunia." riang hatinya berkata, namun hanya pias pada hati ku yang terasa.
 
Tak lama Awan yang telah mencuri rembulanku datang, walau sering kulihat ia di kampus namun baru kali ini kami bertatapan. Sosok Awan tampak riang, membiru terang bersalaman dengan Rembulan dan kemudian sang awan beralih pandangan untuk berjabat tangan dengan ku. "Awan " ucapnya menyodorkan genggaman perkenalan, "Ari" kujawab tak kalah lantang. "Nama mu, agak aneh ditelingaku" katanya pelan. "Arini Nindia" jawabku tenang.
 
Arini Nindia namaku, seluruh kawan memanggilku dengan Ari. Sebuah panggilan sayang dari tiga kakak laki-lakiku. Aku adalah perempuan yang menyayangi rembulan bernama Zahra. Aku adalah sahaya yang paling berdosa, namun akan kuteriakan dengan lantang bahwa aku sungguh tak menyangka akan labuhkan cinta pada rembulan yang berwujud sama...
 
 

Blog EntryApr 2, '08 9:56 PM
for everyone
Hubungan aku dengan ayah, sulit untuk digambarkan. Sesulit menggambarkan hubungan rembulan dan matahari, saling menyayangi namun tak pernah berdampingan. Kami jarang bicara, atau pun bertatap muka. Karena ayah sibuk dengan pekerjaannya dan aku sibuk dengan kegiatanku juga. Dalam kepingan memoriku ayah adalah sosok yang sangat kuat baik fisik maupun hatinya, namun kali ini kutatap ayah dalam keadaan yang berbeda. Dalam tatapanku kini sosok itu makin mengecil, entah benar atau tidak begitu atau karena akupun kini telah tumbuh dewasa. Ayah yang kini dalam pandanganku terasa sangat rapuh, tertidur lelap dalam dalam kelelahannya melawan waktu. Kuamati tiap guratan yang ada pada raut wajahnya, banyak sekali guratan kerutan pada wajah itu. Bukan karena usia saja raut itu menua namun juga karena fikirnya terhadap keluarga.
 
Dalam rumah kami ayah adalah sosok yang paling disegani, didikannya sangat keras. Gulungan koran biasa ia pakai jika kami tak bangun sholat disubuh hari, lebih dari ini marah ayah selalu dalam diam. Dalam guratan wajah ayah, kucoba mereka-reka, bagian mana hasil guratanku. Apakah pada kening saat aku sulit disuruh mengaji atau ketika aku telat pulang hingga malam hari tanpa mengabari sehingga dia menungguiku diteras dan akhirnya selama dua hari ia tak bicara padaku. Pada guratan itu aku merasa malu, kalau kuhitung mungkin sebagian guratan itu ada karena aku. Guratan saat ia harus berkerja keras agar aku dan adik-adik terus kuliah, guratan-guratan saat ia harus berdebat dengan anak-anaknya untuk sebuah permasalahan yang saat ini kufikir entah kenapa diperdebatkan? guratan saat ia harus menerima kekalahan dari waktu dan kini ia harus terbaring.
 
Rambutnya makin memutih, fikirku terlamun dalam rindu. Kerasnya didikan ayah sungguh dulu aku tak mengerti, untukku ayah terlalu kaku. Bagiku ayah tak mau mengerti, bukan karena ia tak bisa namun karena ia tak ingin. Sebab itu dulu kutanamkan sebuah hadist tanpa menelaah terlebih dahulu. Kusayangi, kucintai, kuhormati ibuku, ibuku, ibuku terlebih dahulu baru kemudian ayahku. Kutelah bulat-bulat hadist itu, hingga aku sangat dekat pada ibu dan terkadang melupakan ayah. Padahal jika saja ku telaah, tak akan ada aku tanpa ia sebagai ayah. Di usianya yang senja, ayah sering cemburu, begitu kata ibu. Cemburu akan perhatianku pada ibu yang tanpa cela sedikit pun namun begitu kaku pada ayah. Kakuku ini bukan dibuat-buat, namun karena waktu yang terlalu lama membatasi ayah dan aku, rasanya sedikit aneh jika aku bermanja-manja padanya begitu pembelaanku. Namun kini usia telah meredam emosiku, waktu semakin membuatku lebih mengerti pengharapan ayah padaku. Diri kini mulai berkaca untuk bersikap lebih baik, dalam diam berharap semoga tak terlambat.
 
Sosok itu masih terlelap dalam tidur, letih sekali sepertinya. Kuambil air wudhu sebelum bersembahyang, sebagai  obat penenang. Aku teringat sepenggal ayat "Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Q.S. Al Anbiya:30). Kuharapkan wudhu dapat membasuh segala kegalauan, karena air bukanlah benda mati air menyimpan kekuatan  *Rasulullah saw. bersabda, “Zamzam lima syuriba lahu”, “Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya”. Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah …  
Setelah sholat lambat-lambat kulantukan doa, kusematkan sebuah pengharapan pada NYa, agar diberi Nya ayah kekuatan dan agar diturunkan Nya pada kami ketegaran.
 
"Sudah subuh nak?" ayah bertanya dalam rintihan, "belum, masih jam dua. Ayah mau sholat malam?" sigap kutawarkan bantuan ketika ayah mengangguk tanda sebuah persetujuan. "Jangan khawatir ayah akan baik saja, tak perlu merasa sedih kalau memang itu sudah kehendak Nya" bijak ayah masih terasa. Diusapnya pipiku lambat lambat, disentuhnya rambutku dengan harap, dengan tangan yang membantuku tumbuh, dengan tangan yang menghantarkanku pada saat kini. Ayah bersembahyang dalam baring, air mata tak kunjung jua mengalir, batukah aku? tanya itu muncul begitu saja. Namun saat kulihat ayah berdoa bukan bagi kesembuhannya, ia lantunkan sebuah doa bagi kami anak-anaknya, air mata ku membuncah. Tertahan untaian kata " Ya Robb, aku sangat menyayanginya, tolong berikan aku kesempatan sedikit saja untuk membuatnya bahagia" . 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Blog EntryFeb 27, '08 1:24 AM
for everyone

Kali ini saya mau santai sedikit. Karena sedang jenuh jadi malas-malasan berkerja. Sudah tahu sedang malas-malasnya, atasan berikan instruksi saya mesti ke Makassar lebih awal dibulan ini (biasanya tiap kali saya pergi, selalu ditengah bulan). Mau tak mau si instruksi harus saya jalankan, walaupun sebenarnya enggan. Cuaca yang tak bersahabat saya pakai sebagai alasan, namun sang atasan keras titahkan, "ingat ini adalah kewajiban". Sekali lagi saya berangsut pergi dari ruangan, wajah ditekuk hati pun berang. Keluar ruangan, ku telfon mahdiyah tersayang. Kukatakan hatiku sangat berang. Seperti biasa ia katakan hal yang elok-elok agar aku tenang.

 

Sebenarnya pergi ke tempat dimana Fort Rotterdam (Benteng Ujung pandang) berada, bukan baru kali ini kulakukan. Karena letak pabrik tempatku berkerja ada disana, maka kunjungan dinas ini memang hal yang sudah biasa. Yang luar biasa adalah keadaan hati yang sungguh sedang jenuh-jenuhnya pada pekerjaan yang sedang dilakoni. Memang waktu 3,5 tahun tidak lah lama dibandingkan dengan orang lain yang mungkin sudah belasan tahun duduk dibangku kantornya. Namun mungkin karena hati tidak ada disana, membuat segala sesuatunya jadi berat terasa.

 

 

Kejenuhanku bukan tak mendasar, sebagai sarjana Sospol kuimpikan pekerjaan yang beriringan dengan ilmu yang diterima. Namun dipertengahan jalan, aku disini mencermati angka untuk ukuran kayu yang sekiranya akan di cutting untuk dijadikan plywood, bentuk yang nantinya akan dipasarkan. Ketakutanku bekerja ditempat ini pun tak sedikit. Walau tak diambang kemunduran, tapi tentu kawan semua tahu bahwa bahan baku kayu tak semudah dulu didapatkan. Hal ini juga menjadi pertimbanganku untuk terus mencari tempat rezki yang baru. Sungguh aku beristifaqfar untuk tuliskan ini, karena hamdalah memang harus banyak diperdengarkan, jika mengingat banyak diluar sana yang masih mencari pekerjaan. Namun sekali lagi pembelaanku, tentu manusia punya impian. Disaat kawan-kawan seperjuangan, sudah menggapai cita-cita yang kami inginkan saat duduk dalam perkuliahan, sedikit iri ada merasuk dan mungkin kali ini jadi membesar hingga jemu jadi berlarut.

 

Tapi benar kata seorang kawan baru, bahwa disana dalam kitab yang tidak akan berdusta, dijanjikan kebaikan bagi yang mau bersabar dan tak berputus asa. Kiranya, Mahdiyah menelfon lagi. Baru saja ia dapatkan kabar, ia juga akan ditugaskan di Makassar. Di tanggal yang sama dengan keberangkatanku. Hatiku jadi besar, akhirnya kuminta perpanjang tiket untuk dapat dua hari berjalan-jalan. Semoga bisa mengusir perasaan jemu agar dapat bersemanggat lagi untuk sekiranya mencari tempat yang baru.

 

Kini aku jadi menghitung hari. Tak sabar nantikan minggu esok, ingin cepat berlarian sampai dipulau Akkarena, berkeliling dipulau samalona dan melihat-lihat nelayan di Paotere, menyandarkan hati di Al Markaz Al Islami. Berserah, bertasbih didalamnya. Disana nanti akan segera kuusir jemu semoga cepat ia berkemas pergi.  Semoga.


Blog EntryFeb 26, '08 12:40 AM
for everyone
Mahdiyah...
Apa kabarmu hari ini? semoga kau baik selalu wahai sahabatku....
Kabarku masih sama, hari-hari sudah berlarian berlalu.....
Namun jenuh masih jua bergelantungan dalam hatiku...
Dan masih jua aku tak tahu apa sebabnya ia begitu...
 
Mahdiyah...
Semoga kau tak bosan membaca suratku, tak ikut jemu seperti hatiku..
Minggu lalu, kucoba susuri jalan setapak dipematang sawah..
Ku penuhi mataku dengan menguningnya padi...
Kupenuhi dahagaku dengan derasnya sungai mengalir..
Namun tak jua jenuh itu berkemas pergi..
 
Mahdiyah..
Akhir-akhir ini aku sering menanggis sendiri..
Sampai terlelap dalam mimpi pun tangisan  tetap mengalir...
Sedih begitu membuncah dalam dada, bergejolak begitu dasyatnya...
Bergelung-gelung menghitam segelapnya awan pembawa hujan
Aku lelah sekali, terutama hari ini...
Lelah mencoba kuatkan hati, lelah memikul beban..
Lelah berjalan tertatih...
aku ingin menyerah, aku ingin diam saja.....
 
Mahdiyah...
Tolong mintakan ampunan pada Tuhan saat kau membaca surat ini...
Karena saat kumengadu padamu, tentu masih banyak yang lain yang lebih menderita dariku..
Namun kali ini aku tak mau mengerti, aku ingin menangis sejadi-jadinya...
aku ingin meraung sekeras-kerasnya.......
 
Mahdiyah...
Pasti kau sedang kerutkan dahimu,
berfikir, ini kali apa lagi yang menimpaku..
Hal apa lagi yang akan kau dengar..
kata apalagi yang harus kau ucap....
 
Mahdiyah....
Jangankau berikan aku wajah itu,
wajah tanda kau tak setuju atas segala kepasrahanku..
Sekali ini saja, biar aku jadi manusia yang kerdil dengan keputus asaanku...
 
Mahdiyah..
aku tak tahu harus tuturkan apa lagi..
terlalu banyak sampai tak ada kata yang bisa menghantarkannya..
terlalu banyak hingga aku tak tahu yang mana salahnya...
 
Mahdiyah...
Sungguh aku tak sabar, nantikan segala janji yang kau katakan..
bahwa terang itu akan datang, cahaya itu akan semakin benderang..
Kuharap jangan ia datang terlalu lama, karena aku sungguh terlalu lelah menantinya....
 
 
 

Blog EntryFeb 13, '08 11:39 PM
for everyone
Sudah lihat detik.com pagi ini? biasanya untuk mengisi informasi keadaan dalam dan luar negeri saya buka detik.com atau kompas online soalnya saya gak pernah sempat baca koran dihari kerja dan pagi ini beritanya menyebalkan sekali. Berita kali ini mengenai kartun Nabi Muhammad yang muncul kembali di Denmark (sempat muncul dua tahun lalu, namun kemudian dilarang oleh pemerintah Denmark setelah banyaknya unjuk rasa yang memprotes karikatur tersebut).
Baca tajuk beritanya saja saya sudah sangat geram dan kegeraman serta kekesalan saya bertambah besar setelah membaca seluruh isi beritanya. Media Denmark kembali membuat ulah dengan meduplikasi ke 12 gambar kartun Nabi Muhammad yang pernah membuat heboh dua tahun yang lalu. Kartun ini tidak hanya dipublikasikan disatu media saja namun di 17 media di Denmark sana. Kartun-kartun itu diantaranya memuat karikatur Nabi Muhammad yang sedang menunggangi unta sambil kencing dan minum bir, kemudian karikatur nabi Muhammad yang sorbannya berupa bom dengan sumbu menyala dan senjata ditangannya.
 
Yang paling mengesalkan, alasan mereka kembali mengeluarkan kartun ini adalah sebagai bentuk ekspresi kebebasan berpendapat sebagai hak azazi manusia untuk berekspresi, serta cara mereka untuk memprotes atas usaha pembunuhan sang kartunis, Kurt Westergaard. Huh, aneh sekali. Kalau mengatasnamakan kebebasan perpendapat sepertinya itu alasan yang kerdil sekali. Lalu bagaimana dengan toleransi beragama dan juga sikap saling menghargai? apa semua hal ini tidak penting?
Kemudian alasan yang lain adalah, mengeluarkan kartun tersebut merupakan hak azazi mereka dalam berekspresi. Mmh... saya rasa, picik kalau hak azazi hanya diartikan sampai disitu saja. Hak azazi yang secara harafiah adalah hak bawaan dari lahir untuk sebuah kebebasan harus dipersempit dengan pengartian "bisa bersikap dan bertindak semaunya dan seenaknya karena hak manusia untuk bebas berpendapat".
 
Kalau hak azazi dipersempit dengan artian bisa bersikap dan bertindak semaunya, bisa-bisa keributan dimana-mana. Si perokok akan bilang hak azazi dia untuk merokok ditempat umum. Lalu bagaimana dengan hak azazi orang lain untuk tetap hidup sehat, bernafas lega dan tidak tercemar asap rokok?
Makanya sikap saling menghargai atau tolerasi itu sangat amat diperlukan agar tidak jadi sebuah kebebasan yang kebablasan!!
 
Lalu ada masalah mengenai; karikatur tersebut dibuat sebagai bentuk protes atas usaha pembunuhan terhadap sikartunis. Nah..kalau saya mau mengikuti kata hati yang sedang dongkol, buat saya  wajar saja ada usaha pembunuhan. Setiap orang pasti marah, kalau orang yang disayangi dan dicintai diperolok-olok oleh orang lain. Apalagi beliau adalah seorang Nabi yang notabenenya adalah utusan Tuhan,  yang bagi umat islam adalah sosok yang sangat dihormati dan dicintai. Kalau kata penyanyi lama Obi Mesah, semut saja kalau diganggu akan menggigit, apa lagi manusia? itu opini saya yang sedang dongkol.
 
Namun disini saya tidak akan menuruti fikiran itu, segala tindakan yang melanggar aturan sebaiknya diselesaikan melalui jalur yang telah ditetapkan, si kartunis bisa digugat secara hukum. Bukannya diteror apalagi ada usaha pembunuhan. Perbuatan seperti itu akan semakin membuat nama Islam buruk. Teror tersebut akan menjadi sebuah pernyataan yang mengamini kartun-kartun yang beredar saat ini.
 
Sampai tulisan ini selesaipun saya masih belum bisa menrima alasan karikatur itu dibuat dan kegeraman saya hanya bisa disalurkan begini walaupun belum cukup rasanya..

Blog EntryFeb 10, '08 10:00 PM
for everyone
Biasanya saya malas melihat-lihat infotaiment, kebanyakan beritanya gak ada yang penting. Itu menurut saya lho, soal artis baru potong rambut saja bisa jadi head line utama. Tapi kemarin sore sedikit berbeda, karena hari libur, sore hari saya pakai untuk bermalas-malasan menonton televisi. Saat itu chanel pertama yang terklik ada berita infotaimentnya. Buat saya beritanya cukup menarik, karena saya berani bilang saya ini pecinta film. Saya lebih pilih seharian nonton dvd atau baca buku daripada seharian tour mall to mall.
 
Nah, berita kali ini membahas soal artis dan para sutradra yang rame-rame minta agar lembaga sensor dihapuskan atau ditiadakan saja. Gimana mbak2 dan mas2 sekalian, setuju atau tidak?? kalau saya, reaksi pertama kali lihat berita itu cuma senyum-senyum saja. Karena si artis yang diwawancara, tentang mengapa menurut ia LSI (Lembaga Sensor Indonesia) harus ditiadakan, menjawab dengan mengebu-gebu dan emosional. Pesan yang ingin disampaikan oleh si artis tidak sampai ke saya, justru yang sampai itu si artis kok emosional sekali yah, apa tidak terlalu reaksioner dia menanggapai permasalahan yang ada. Dari pada bingung saya terus ikuti beritanya, tidak jadi ganti chanel. Si artis dan sutradara berlomba-lomba berikan alasan kenapa LSI harus ditiadakan. Tapi yang paling menarik si artis terkenal bilang, kalau dia nanti mau lindungi anaknya dari film yang bermuatan kurang mendidik (menjurus porno, mungkin maksudnya) dia "akan langsung tongkrongi bioskopnya" begitu katanya kalau saya boleh kutip. "Saya tidak perlu LSI untuk ngejagain anak saya" lanjut si artis lagi, duh kok emosional sekali yah?
 
Kalau buat saya pribadi LSI tetap diperlukan keberadaannya. Mungkin kata yang tepat dibenahi,bukannya ditiadakan. Dibenahi undang-undangnya, dibenahi para perwakilan yang duduk disana, dibenahi pula pola fikirnya. Bukan ditiadakan atau dihapuskan, karena keberadaan LSI juga merupakan satu lapisan penjagaan atas maraknya porno aksi dan pornografi yang ada di Indonesia. Walaupun mungkin tidak seberapa besar pengaruhnya, karena toh masih banyak film-film asing yang justru lolos sensor juga (khususnya dvd). Saya juga tidak sepenuh nya mendukung apa yang dilakukan oleh LSI, toh kalau saya nonton juga sering mereka (LSI) mensensor dibagian-bagian yang menurut saya tidak perlu disensor karena justru memotong arti keseluruhan dari filmnya. Banyak hal yang seharusnya diperbolehkan juga, adegan yang tujuannya nanti akan mendidik dan mencerdaskan si penonton, memberikan satu pencerahan setelah ia keluar dari pintu bioskop. Tapi yah kalau LSI ditiadakan kok sepertinya terlalu reaksioner yah. Berlebihan.
 
Kalau LSI ditiadakan, berarti bioskop-bioskop ikut ditiadakan saja. Karena sering kali tanda untuk 17 tahun keatas tidak dipatuhi oleh sipenonton. Tugas si pemilik (petugas ticketing) bioskoplah untuk lebih tegas dalam memberikan peraturan. Saya rasa cek KTP sebelum masuk bioskop tidak masalah. Terlalu saklek yah saya? yah sikap ini karena sering kali saya lihat banyak film yang dituntut untuk 17 tahun keatas, namun didalamnya banyak penonton yang umurnya baru 10 tahunan. Contohnya saya nonton Quickie Express tempo lalu, film itu kan tentang komedi dewasa kok yah ada anak umur (perkiraan saya) 10 tahun ikutan nonton??
 
Walaupun tugas orang tua tidak kalah pentingnya dalam mengawasi sang anak, tapi orang tua juga tidak selalu bisa memonitor kegiatan serta aktifitas sang anak, jadi yang gak bisa ditongkrongin terus juga. Yah ini sekedar bahan diskusi saja, saya lebih mikir kearah anak-anaknya. Kalau buat yang sudah 17 tahun up, yah terserah saja. Karena sudah dianggap dewasa jadi harus pandai menentukan pilihannya. Film seperti  apa yang akan dia pilih untuk mengisi pengetahuan serta jiwanya. Ayo.. kalau ada yang setuju, atau malah tidak silahkan dikasih komentarnya....
 

Blog EntryFeb 6, '08 5:48 AM
for everyone

Saat kecil dulu pernah ibu mendongeng untukku, katanya kelak nanti kudewasa akan ada pangeran berkuda putih datang padaku, membawaku pergi jauh ke istana. Istana dengan pilar-pilarnya yang bulat besar, putih dan tinggi. Tak akan bisa kupeluk pilar-pilar itu biarpun dengan kedua tanganku. Namun kini diusiaku yang dua puluh dua, tak jua ada pangeran itu datang. Yang ada hanya mobil-mobil putih datang silih berganti. Namun tak satupun pangeran itu membawaku. Disayanginya aku sesaat, lalu mereka pergi setelah lemparkan uang dimukaku.

 

Anna namaku, aku lahir jauh disebuah kampung dipinggiran pantai. Kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Sejak kecil tak pernah kukenal ayahku, hanya ibu yang aku tau, dari sejak kupandai membuka mata hingga aku besar begini. Kata orang kampung, ibuku lonte. Ayahku orang asing yang singgah berdagang dipelabuhan kecil kampung kami. Dari ia kudapat rambut merah jangung. Tapi aku  tak pernah tau betul apa tidak kata orang-orang itu, karena ibu tak pernah sekalipun bicarakan hal ini dan aku pun terlalu takut untuk bertanya. Lonte atau bukan  saat itu aku tak peduli, karena rasa sayang ibu tak pernah kurasakan kurang untukku. Sampai akhirnya sore itu datang. Dua belas tahun umurku waktu itu, kalau aku tak salah ingat. Untuk seumuranku, badanku termasuk besar, sudah  tak tampak kepolosan anak-anak diwajahku. “Ann, coba kau  kesini sebentar” masihku  ingat kata ibu waktu itu.“Ini kenalkan, namanya mandor Dirman. Dia seorang mandor kenamaan”, demi mendengar kata ibu, cepat aku beringusut dari peraduan. “ Mandor Dirman orangnya baik lho Ann” ibu berpromosi padaku. Walau tak mengerti, kucoba berikan senyuman. “Sini duduk dekat-dekat ibu, kenapa kau jauh begitu” tergelak ibu bicara, kulihat deretan giginya berwarna putih. Dari samping ibu dapat kulihat wajah sang mandor. Coklat muda kulitnya, wajah nya teduh kebapakan, Cukup tampan walau tak setampan kakakku yang kedua, ada sebuah luka kecil dikeningnya. “ Kau temani mandor Dirman  Ann, ibu mau kewarung” cepat kutatap wajah ibu lekat-lekat “ tak akan  lama Ann, sebentar saja hanya beli kopi dan gula” tajam  tatapan ibu kearahku. Pasrah, akhirnya kuanggukan kepala.

 

“Anna kelas berapa?” mandor pindah duduk kesebelahku. ”Hanya sampai kelas tiga pak” takut-takut kujawab. "Sayang sekali hanya sampai kelas tiga” tangannya pelan-pelan naik pindah kearah bahu. “Ibu sebentar lagi datang pak” aku tak tahu harus menjawab apa. ”Dekat-dekat saja Ann, kenapa jauh-jauh? mas Dirman punya uang banyak untuk kamu” aku coba beranjak dari bangku, namun tangan nya terlanjur mencengkram tangan ku. “Tolong  pak, jangan” rontaku  tak karuan, namun  simandor  terlalu kuat  untuk aku melawan. Sekuat tenaga aku berteriak, menjerit bahkan melolong namun kenapa tak ada yang datang? tak seorangpun, kemana mereka semua?Kemana orang-orang kampung? Habis perlawananku, hanyam kelam yang kuingat. Pingsan aku kiranya.

 

Sudah kejadian itu tak ada satupun diantara kami yang memulai bicara, untuk menangis dan mengadu pada ibu pun aku tak bisa. Mulai saat ini hilang rasaku untuk ibu, dalam gelap pandangan masih kuingat ibu terima uang dari si mandor. Tak akan habis-habisnya benciku untuk ibu. “Tak usah menagis Ann, nanti juga biasa, tak bengkakkan kemaluanmu?” ibu masuk tanpa mengetuk, ”sakit bu, perih seperti luka kena asam”  ingin menangis aku menjawab, tapi tangisku hilang tertelan dalam benciku kepadanya. “Kau kompres dengan air dingin, sehari atau dua akan hilang bengkaknya”.

 

Sehari dua memang sudah berjalan, namun rasa diri jauh lebih pendiam. Lebih banyak bisu lebih banyak tuli, lebih banyak ingin sendirian. Kabar cepat menyebar, kini tiap mata yang memandang terasa bak sebilah pedang. Dalam pandangan mereka, dosa selangit dan sebumi aku yang tanggung.

 

Itu kisah tahunan lalu, tapi masih lekat gambarannya diujung mata, saat ini aku pun sudah pindah kekota. Aku ikut mandor yang aku pun sudah lupa namanya, dia tawari aku bekerja ditempatnya namun sudah sampai dikota dia jual aku kemandor lainnya , seorang Tionghoa dia jadikan aku seorang Nona. Kini aku punya rumah bagus tapi dimataku rumah itu selalu tampak sama buruknya dengan gubugku dikampung. Dirumah ini kuterima pangeran-pangeran yang perlu kasih sayang sesaat, pangeran yang bahkan tak tahu namaku, tapi sudah tiduri aku puluhan kalinya.

 

Sudah siang begini namun belum juga ia datang, berguman aku dalam hati. Kali ini yang aku tunggu bukan seorang pangeran namun dokter untuk periksakan aku. Tiap sebulan sekali, rumah ini selalu didatangkan dokter. Karena yang aku temani para pangeran tentunya sipangeran tak mau ditemanin dengan nona yang pesakitan, takut-takut mereka tertular jadi pesakitan pula. Cihh..desis ku tertahan, mereka takut jadi pesakitan, mana aku tahu kalau ternyata mereka yang jadikan aku seorang pesakitan.

 

Si dokter datang juga akhirnya, warna keperakan dirambutnya menandakan kematangan usia. Senyumnya tulus memandangku, ia bilang aku seumur anaknya kalau saja masih hidup. Tak seperti laki-laki yang aku kenal, entah kenapa aku percaya pada tulus hatinya tak sedikit pun aku curiga. Mungkin karena sudah 8 tahun aku kenal dengannya, mulai dari aku masuk kedalam rumah ini.

 

"Ada keluhan tidak Ann? coba kau duduk lebih maju" tak pakai istirahat, langsung ia berkerja. "Tak ada keluhan yang berarti dokter, hanya flu saja" jawabku sekenanya dan seperti layaknya ayah pada anak, ia meracau "flu, kalau sering juga bahaya Ann, zaman sekarang flu pun bisa jadi penyakit ganas. Lebih hati-hati kau Ann" . Ia teruskan meracau lagi " Sudah kau pikirkan perkataanku kemarin Ann? walau sedikit, pasti kau punya tabungan. Lebih baik kau pergi jauh dari sini, tak takut kau kena penyakit AISD, huh? ". Kali ini tak seperti biasanya mulut ku tak terbuka, tak membalas apa-apa. " Tiap orang pandai berpilin kata Ann, namun aku katakan yang sebenarnya sebagai seorang bapak, kalau kau tak berkeberatan. " Kau masih muda, masa depan masih panjang, menjulur sampai kekaki langit. Apapun yang terjadi dilangit dan dibumi memang tak bisa dipungkiri dan tak bisa diulang kembali. Tapi nasib bisa dirubah Ann, tak mungkin Tuhan takdirkan yang tak baik untuk hambanya, ada kau pikirkan itu??" dengan harap ia bertanya padaku. Sekali lagi suaraku tak terdengar."Apa yang kau nantikan disini, pangeran yang akan bawa kau pergi?? tak ada Ann, tidak disini akan kau dapatkan pangeran sejati. Impianmu Ann, tiada beda seperti mimpi dapatkan bulan. Mencibir tidak mengejekpun bukan aku Ann".

 

Buru-buru dia rapikan tas nya, "Ann sekarang aku harus pergi, ingat pesanku. Kalau kau bisa, datang lah nanti malam, kutunggu kau sore ini pukul tujuh di halte depan". Entah kenapa hatiku berdebaran takut-takut kusalami tangan nya ketika ia berpamitan. Sekarang hanya hening dan aku yang tinggal dirumah ini. Dalam rumah ini aku tinggal dengan dua orang nona lainnya, si orang Tionghoa yang sewakan kami rumah. Bak buka toko baru malam pukul 10 para pembeli datang dibawa oleh Tuan. Sebelum mereka datang biasanya kami berdiam didalam kamar. Kalau ingin keluar, harus melapor terlebih dahulu pada orang yang ditugaskan untuk jaga pintu gerbang.

Diluar jendela, kulihat, nampak awan biru berarakan, kemudian mulai hilang berganti langit yang mulai gelap dalam pandangan.

 

Seperti orang kesetanan, kukumpulkan baju-baju secukupnya, kuambil gunting untuk membuka jahitan yang ada pada bagian dalam kasur. Itu tempatku sembunyikan uang. Aku harus pergi, fikirku. Walau bagaimanapun rintangannya, ditempat ini keceriaanku padam, kesenanganku pun tertawan. Sidokter pernah katakan bahwa ia ada saudara jauh didaerah kalimantan, disebuah kota kecil disana. "Kau bisa mulai hidup baru", itu tawarannya saat itu. Kini ia menungguku, dia sudah belikan aku tiket pesawat untuk nanti malam. Sore hari sudah menjemput, biasanya saat azan Magrib sipenjaga walau menyeramkan wajahnya taat juga ia bersembahyang. Kurencana kan saat itu aku akan pergi, jauh dari tempat ini.

 

Sekarang sudah tiba saatnya, untuk pertamakali aku bersembahyang. Satu bacaan al-quaranpun aku tak dapat, tapi khusyuk aku berdoa "Ya tuhan, kupercayakan nasibku padaMU, lindungilah aku".

Sekali lagi aku ingat kata Si dokter saat itu "Ann, tiada guna bila tua menjadi ragu dan tak ada satu hal pun dapat tercapai kalau kau ragu". Semangatku pun datang, demi kata-katanya itu akhir nya kulanjutkan berjalan, walau kelam sudah terasa menghadang dikejauhan. Kulambaikan tangan saatku lihat sosoknya, sidokter ternyata setia menanti. Senyuman khas nya melebar. Segera kami stop taxi menuju kebandara. Birunya warna taxi seharu biru perasaanku kini, sebelum kututup pintu kulihat kebelakang sekali lagi...Tuhan, kupasrahkan hidupku padaMU. Lindungilah sahaya Tuhan, demi mulai hidup yang baru.


Blog EntryJan 31, '08 4:53 AM
for everyone

Terik sekali matahari siang ini. Memantul menghangatkan aspal jalan, namun tak terasa panas nya dikakiku yang tak beralas. Sekarang pukul 12 siang lewat sedikit, waktunya berkerja. Kau mau tau kantorku? dibawah lampu merah diperempatan Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Sudah lama aku berkerja disini, sekitar  8  tahun lamanya. Dimulai pada usiaku hampir menginjak 2 tahun, disaat kaki-kaki kecilku belum cukup menahan berat badanku sendiri.

 

Siang hari saat jam kantor makan siang dan tanggal muda seperti sekarang, biasanya lumayan pendapatanku.  Orang-orang yang berkendaraan itu lebih pemurah diawal bulan.  Sambil mengelap keringat, kucoba berjalan kearah sebuah mobil sedan. Mudah-mudahan si Bapak baik hati dan kasih aku uang ribuan. Aku tak ingat siapa yang mengajari ku mengemis atau pun mengamen, yang aku ingat seluruh keluarga dan tetanggaku dibawah kolong jembatan jl. TB Simatupang melakukanya. Jadi hal ini adalah hal yang biasa, kurasa tak perlu dibesar-besarkan. Kali ini ada mobil bus besar datang, melaju dengan cepatnya. Kalau tadi tak lari mungkin sudah patah kakiku tertabrak, seperti adiknya si Irah kemarin dulu. Kena tabrak mobil, yang kabur begitu saja. Mungkin memang salahnya sendiri yang menyebrang jalan sembarangan, tapi pengendaranya yang kabur setelah berbuat salah tanpa bertanggung jawab juga tak benar kurasa.

 

Si bus besar berhenti tepat disisi jalan. Gambar yang ada di bus besar sangat  menarik hati. Ada seorang  anak sedang membaca koran bekas dihamparan ladang sampah, wajah anak itu mirip Ita adik ketigaku. Kurasa umurnya sekitar 5 tahun. Diatas gambar itu ada sebuah tulisan “ ini ruang belajar ku…”, kalau tak salah begitu kata-katanya. Tak tahu lah aku benar atau tidak, karena aku pun sama seperti si anak tak pernah bersekolah. Buku bacaanku hanya poster-poster di dinding jalan.

 

Melihat gambar itu, ada perih dihatiku. Tentu aku mau sekolah, siapa yang tidak? hanya orang bodoh yang tak mau belajar. Kata emak dan bapakku, aku anak yang pintar karena dulu tiap pagi kalau emak ada uang sedikit, selalu ia kasih aku telur ayam kampung setengah matang. Tapi itu dulu sebelum empat adikku yang lain lahir. Pintarnya aku kata emak sudah kelihatan dari kecil. Angka-angka pada mata uang dan huruf pada lembarannya, aku sudah hafal dari umur  4 tahun. Itu lah caraku belajar untuk pertama kalinya. Pada lembaran uang yang lusuh aku belajar berhitung dan membaca. Pintarnya aku pun selalu diakui bang Ipin yang  punya warung dan si Endah anak nya, buku pelajaran Endah yang kelas 5 SD saja aku mengerti.

 

Ingin aku sekolah seperti Endah. Pernah juga aku merajuk pada emak, agar ia bilang pada bapak supaya aku bersekolah. Tapi emak tak menganggukan kepala, hanya teriakan dan pukulan yang aku terima. “Mau sekolah pake apa, hah?? emang lu bilang, duit emak bapak lu banyak?? mikir pake otak, besok lu bisa makan ajah, udah sukur…” begitu katanya . Tapi aku tak pernah marah atau benci padanya. Mungkin ia pusing, pikirkan empat anaknya dan lakinya yang kawin lagi. Jadi ia berteriak-teriak dan marah padaku. Biar begitu setelah usai marahnya, dia dekati aku ”lu ngertiin yah neng, emak bapak lu orang gak punya,jangan kan buat sekolah, buat makan ajah kita susah”, setelah itu keluar air matanya. Walau kami tak pernah berpelukan atau tak mengenal kata sayang, tetap aku tahu kalau emakku sayang padaku terlihat dari usapan tangan keriputnya dikepalaku dan kuyu  raut wajahnya menatapku. Kalau sudah begitu, rasa bersalah menyelimuti hati ku. Sudah kulukai hatinya, tak akan lagi aku minta bersekolah. Walau rasa itu kadang datang juga.

 

Dulu sekali, emak pernah bilang padaku, pada malam-malam sebelum aku tidur dibawah hamparan bintang. Kalau saja ia dulu bersekolah, tentu ia akan bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Lulus SD pun tak apa, paling tidak ia bisa jadi babu. Lalu ia bisa sekolahkan aku, agar nanti tak jadi babu seperti dirinya.  Tapi tak kusalahkan dia karena orang tua emakku pun tak sekolah, jadi nenek dan kakekku pun miskin seperti emak dan bapakku kini.

Kemiskinan nenek dan kakek tak bisa sekolahkan emakku, walau hanya sampai SD. Begitu juga dengan emak dan bapak nenekku sebelum-sebelumnya.

 

Saat itu pikiran ku melayang, jadi kalau emakku miskin sehingga tak sekolah, tak bisa kerja yang lebih baik untuk dapat sekolahkan aku, lalu bagaimana dengan anak-anakku nanti nya? aku pun tak sekolah hanya jadi pengemis, jadi nanti anak-anak dan cucuku pun jadi pengemis lagi saja?? begitukah harus jalan nya? jadi kalau orang yang miskin akan terus miskin karena kebodohannya dan yang kaya-kaya itu akan terus jadi kaya karena ia punya kesempatan untuk jadi lebih pintar? duh gusti kalau begitu, salahku kah semua nya? di kejar-kejar oleh trantip lalu dicaci maki dengan sebutan sampah masyarakat? kalau boleh memilih aku pun tak mau jadi pengemis..

 

“Jangan melamun..” tersentak aku ketika ibu menarik tubuhku kearah bahu jalan menjauhi si bus besar “jangan lupa besok pagi-pagi kau harus kepasar, ada truk beras datang” begitu katanya sambil menyuapi si bungsu. Baruku ingat besok hari Rabu. Pada hari itu  truk beras yang mengantar beras ke toko klontong Nusa Indah datang. Lambat-lambat kulantunkan doa pada Tuhan, semoga saat kuli mengangkut beras ada lubang besar di karungnya. Supaya ceceran beras yang kudapat lebih banyak,  biar kenyang perutku sekeluarga. Kumohonkan pula agar kali ini tak ada trantip esok pagi, trantip yang kadang tangannya usil sengaja memegang paha atau buah dadaku pada saat mengusir kami. Itu saja Tuhan doa ku kali ini….

 

* Sekedar cerita yang kukira-kira pada raut wajah seorang pengemis kecil yang saban hari selalu kulihat ketika kulewati lampu merah di Jl. Fatmawati.

 


Blog EntryJan 29, '08 1:06 AM
for everyone

Deras hujan tadi malam menyisakan pagi yang terasa dingin sekali hari ini, selesai berpamitan dengan kedua orang yang paling kusayang aku berjalan kearah jalan raya untuk segera mulai aktifitas hari ini. Melakukan ibadah selanjut nya setelah sholat subuh tadi pagi. Bekerja, sigh... ku tarik nafas dalam-dalam kok rasa nya berat melakukan hal yang satu ini. Bukan karena aku pemalas,pekerjaan nya tidak kusukai atau pun lingkungan nya tidak bersahabat, namun karena rutinitas yang statis adalah satu hal yang paling ku benci padahal sabtu minggu yang lalu aku sudah lewati pematang sawah dan gemericik air sungai untuk menghilangkan jenuh yang ada..Soal perjalanan ini nanti aku ceritakan yah...

Perjalanan dari depan rumah sampai ke halte pemberhentian bis cukup jauh sekitar 15menit berjalan kaki, tak apa lah sekalian menurun kan lemak badan yang kata ibu ku sudah mulai berlebih. 10 menit lebih menunggu akhir nya bis itu datang juga, bukan bis umum biasa tapi bis antar jemput sebuah departemen pemerintah yang aku tumpangi. Bukan karena aku berkerja pada instansi itu aku turut duduk dalam bis, tapi aku turut karena bis ini langsung lewat jalan utama tidak perlu berhenti berlama-lama menunggu penumpang sampai penuh. Kurang tahu aku apakah hal ini diperboleh kan, bukan pegawai dept. tapi boleh turut ikut. Tentu nya dengan membayar sejumlah uang yang jauh lebih mahal dari pada naik bis umum. Ini adalah ketiga kali nya aku turut dalam bis ini dan rasa penasaran ingin tahu sah tidak nya aku turut duduk disini akhir aku beranikan diri bertanya pada si supir. Jawaban yang kudapat sejatinya sudah ku ketahui, "buat tambah2an mbak lumayan buat makan siang", sambil tersenyum malu si supir menjawab. Pernyataan nya langsung dilanjutkan "tapi mbak uang nya gak buat saya sendiri kok, kalau nanti sampai saya juga mesti bagi2 dengan bapak-bapak yang lain. Kalau kebagian semua kan jadi nya aman mbak" lalu tawa kecil nya menjadi, entah karena ia malu mengutarakan hal itu pada ku atau karena mentertawakan si "bapak-bapak" yang mesti dibagi biar aman!!..

Huh...walaupun jawab nya sudah jelas dan sepertinya sudah biasa terdengar ditelinga, namun tiap kali hal-hal seperti ini selalu membuat ku muak, namun segera aku tersadar. Toh hal ini terjadi karena aku juga, aku yang memilih untuk turut serta dalam bis ini. Aku pula yang menyuburkan budaya bagi-bagi yang rata biar aman!! Jikalau ada pembeli tentu ada penjual nya. Tak ubah nya seperti para pedagang kaki lima yang tiap kali selalu diprotes karena menggangu bahu jalan, merusak pandangan mata toh tetap saja pedagang-pedagang itu menjamur karena tiap kali mereka dirikan lapak untuk berjualan begitu banyak pula pembeli yang mendatangi nya. Konsep ini pun sama saja seperti PSK,calo KTP, dan korupsi dimana-mana... jadi kemana pembahasan ini akan ku bawa??

Setelah meng-amini fikiran sendiri akhirnya kusandarkan kepala, menyadari bahawa hal-hal seperti ini akan terus ada...Seorang kawan pernah bilang dimana pun kau berada, ditempat apapun kau tegak, kau bisa melakukan perubahan. Jangan hanya berfikir yang ideal nya saja, karena fikiran yang ideal akan membuat segala sesuatu terasa selalu salah dan kurang. Mulai saja dari diri mu sendiri.

Demi mengingat kata itu, kutarik nafas, mungkin sebaik nya aku besok naik bis umum saja. Mungkin bangun lebih pagi lagi, sehingga jika si bis umum lama berjalan karena menunggu penumpang aku tetap bisa sampai dikatingan tepat pada waktu nya...Tak perlu hanya mengoceh dan bersumpah serapah..

 


Blog EntryJan 28, '08 1:49 AM
for everyone

Film ini akan membuat penonton go way back on the 1970’s, when Uganda’s have their new president Idi Amin. Untuk yang belum pernah dengar nama ini, Idi amin adalah seorang diktaktor yang mendapatkan kekuasaan nya setelah menggulingkan rejim sebelum nya. Jikalau kamu pernah baca mengenai para diktaktor yang pernah ada didunia, maka Idi Amin adalah salah satu diktaktor yang paling kejam yang pernah ada. He kill more than 300.000 people of Uganda’s, pembunuhan tersebut dia lakukan dengan mengatas namakan sebuah pembaharuan, pembangunan dan juga Revolusi yang pada akhir nya tak satu pun kata-kata tersebut dimaknai dengan benar.

 

But, if u an action lover..you will be disappointed with this movie because this movie not about “the war” dimana ada strategi perang kemudian pembunuhan yang membabi buta seperti yang ada di film 300 or Troy. Namun yang dikupas pada film ini adalah, karakter dari Idi Amin itu..Charming, Magnetic and Murderous.

Disini digambarkan bahwa idi amin adalah pribadi yang sangat menarik dia seorang president yang mempunyai  “Full of smile but had a firm Hand”. Rasa angkuh dan kekuasan pada akhir nya membuat Idi Amin lupa pada tujuan awal ia merampas kursi kepresidenan. Ia kemudian menjadi seorang yang keras kepala, Egois because as he always said that “ I’M THE PRESIDENT”. Arogansi yang berlebihan membuat nya tidak mau mendengarkan siapapun baik para mentri-mentri nya atau penasehat kesehatan nya Dr. Nicholas Garrigan.

 

Pada film ini adalah bagaimana sang sutradara mengupas karekter Idi Amin dengan menggambarkan hubungan yang unik antara Idi Amin dengan Dr. Garrigan. Seorang dokter muda dari scotlandia yang datang ke Africa to find a new adventure after he finish from medical school. Seperti saat Soeharto menyatakan dirinya dalah raja terakhir dari Mataram, maka Idi amin memproklamirkan bahwa diri nya adalah keturunan dari raja di Scotlandia, dan ia sangat memuja kebudayaan serta bangsa scotlandia. Disana sebuah hubungan unik itu berawal.

 

Teror dimulai ketika pemberontakan-pemberontakan dimulai dan pembunuhan massal dilakukan untuk membendungnya. Pembunuhan massal terjadi bukan hanya pada rakyat yang dituduh memberontak namun juga pada lingkungan kepresidenan. Missing person was every where, hal ini disebabkan karena Idi Amin sangat ketakutan pemerintahan nya digulingkan sehingga hampir tidak ada satu orang pun yang ia percayai. Lambat laun Dr. Garrigan merasa tidak nyaman akan hal ini dan menyatakan keinginan nya untuk berhenti menjadi dokter pribadi presiden, namun hal tersebut ditolak dan passport sang dokter di rampas dengan paksa. Mata internasional tertuju pada Uganda, Idi amin di nyatakan oleh press internasional sebagai orang gila dengan segala kebijakan yang semau nya. Dilain sisi sang dokter mencari kenyamanan dalam pelukan istri Idi amin yang ke 3, Kay Amin. Penghianatan tidak akan pernah bisa diterima oleh siapapun, bagaimana seorang diktaktor kejam melakukan pembalasanya??

Well you have to see the movie…u should see it,seriously!! mungkin aja loe akan nemuin satu pencerahan didalam film ini. Karena film ini adalah film sejarah yang amat sangat tidak membosankan…

 

 

 


Blog EntryJan 25, '08 4:56 AM
for everyone
Adouuuuhh....Lately makin males gw liat iklan di TV soal produk kecantikan.. Specially produk perawatan kulit A.K.A produk pemutih wajah!!! Ampuun deh males nya..kenapa sih tiap iklan mesti diawali dengan kata “ sekarang suami ku makin sayang sama aku semenjak……” atau sekarang si dia makin sering ngeliatan aku sejak pakai……….” Titik titik dalam kalimat itu bisa loe masukin daftar produk pemutih kulit yang beredar sekarang ini…. Apapun maksud yang tersurat dan tersirat dari production house or those beauty companies buat masyarakat INDONESIA, cuma satu hal yang bisa gw ambil dari iklan itu yaitu : “ hi ladies…. your skin color have to be white, if you want your husband or your beloved boyfriend...love you more or even wanting you more…” penting banget yah emang nya???
Gosh.. Its really bugging me... Is it really those co. think, that Indonesian women are fool to be droped for that commercial break??Or maybe we are....???
For me those break are silly, just think for a while o.k.
First…why you need your skin color to be whiter to make your husband love you more?? You give him a child or children’s, you cook for him, you give him a shoulder to cry when his boss snap him for no reason, you stick with him even when his bald his got fat or the worst one : you stick with him when he cant give you a good orgasms… (Nice huh…?) You got married with him, he want you on the first place, promise to take care and protect you…remember your vow?? Always together in a good term and also in bad term…jadi menurut gw aneh aja, kalo loe perlu produk pemutih wajah buat bikin your fukkin beloved husband lebih sayang sama loe atau lebih memperhatikan loe..i mean he must love your personality more than your physical (or the worst part your skin tone...to mellow i guess...) when his marry you right??? So, there should be NO reason to him. He have to love you when you get old, got no teeth, got wrinkle on you face….cause you would do the same thing for him, no matter what you gonna love him more ever single day.
And why you need your skin color to be whiter for keep your man eye from you?? Is it the only reason for him to love you??
So many thing you can do to keep your man eye, you can be smart, fun to be with, don’t be that one of girls who always demanding. Don’t ask him to report every single detail what his doing or where his going, who’s his friend (you not his mommy!! remember that). Be his partner, listen what he want don’t be his tutors... (Man intense to feels that he know every thing… “Well its o.k. for you to keep it that way sometime” :P
The bottom line for this pointless review is, you don’t need to be like a commercial girls to make some one love you or give respect to you. What ever you skin color if you got good attitude he will sit on your feet (AHA...!!). lagian warna kulit orang indonesia kan emang kecoklatan trus ngapain loe mesti beli obat yang mahal nya minta ampun trus bikin kulit loe ngelupas merah kebakar just for pleased people??? (I really don’t understand this theory!!).
“Well…Beth you just cynical to pretty white girls, beauty is pain darling…” My friend talks to me like this once…and I’m not jealous.
What I'm trying to say is, you can be white, brown or even black and still pretty. Just don’t let a stupid commercial break make your confident low and make you, hurt your self . Dont do something just to pleased someone else!!!

Blog EntryJan 25, '08 4:37 AM
for everyone

Tempat duduk favorit kamu, kalo lagi naik kendaraan pribadi atau umum dibagian mana?

Kalo saya pilih bagian yang paling depan..disebelah supir atau at least dibelakang supir and a must disebelah jendela , tanya kenapa? duduk diam sambil lmelihat keadaan diluar jendela can make me start to think and I can be free to discuss with my brain huhuhuaneh?? Terserah!!  Beda lagi kalo duduk di café saya justru pilih bagian belakang better dipojokan, tanya kenapa lagi? Well duduk dibagian itu punya fungsi yang sama buat saya..yaitu observasi atau mengamati keadaan sekitar dan wajah2 yang ada ditempat itu

Kurang kerjaan?? Sekali lagi terserah!!  Temen saya yang punya teori konspirasi tentang hal ini dan yang merasa know every inch of me… told me that I choose that spot, because I grow up as a grumpy person (:D) that spot suit me cause on that spot nobody gonna bother me so, I don’t feel annoy !! sok tau…who are u? Dr. Phill??

 Mengamati, tetap jadi kata pilihan saya untuk permasalahan diatas….Mengamati setiap wajah dan cerita-cerita dibalik nya....buat saya itu menarik, seorang ibu tua tertatih dipinggir jalan meminta2, atau seorang remaja yang sedang minum teh botol dipinggir jalan, atau seorang ibu muda yang sedang menelpon sambil berteriak sambil sesekali menghapus air mata…(nah lhoo??..) What is the story behind their face? Kita selalu merasa wajah dengan senyum lebar ,make up sempurna dan pakaian dari brand yang terkenal adalah wajah yang tak ada masalah..its it really?? 

Entah kenapa buat saya selalu menarik untuk mengamati wajah seseorang, bukan menatap dengan tidak sopan..namun ketika saya melihat sebuah wajah saya selalu tertarik untuk berfikir apa cerita dibalik wajah tersebut??....

Mungkin saya selalu tertarik karena kebanyakan orang selalu berfikir bahwa dia adalah orang yang paling mempunyai banyak masalah diatas dunia ini, well kalo ini terlalu hiperbola..paling tidak merasa yang paling mempunyai banyak masalah dilingkungan sekitar nyaentah itu lingkungan pekerjaan atau lingkungan pertemanan..Hal itu yang buat saya selalu tertarik untuk mengamati sebuah wajah. 

Tiap kerutan yang ada atau bekas goresan luka atau helai rambut yang memutih, saya selalu tergelitik untuk berfikir apa yang terjadi, hasil observasi saya mungkin gak ada guna nya atau penting nya dimata anda..tapi buat saya observasi itu selalu mengingat kan saya bahwa :“Every person has their own problem and every family has their own difficulty, no matter how big smile on their face for how much money that they had…”

Remain me to always grateful for every thing happened in my life…karena jadi manusia hak preogratif nya adalah untuk selalu menyalahkan dan mencari kambing hitam atas semua bencana yang acap kali menimpa nya.. Huweekkk…..sok bngt yah, walau agak sulit untuk sampai pada tahap diatas, tapi ane lagi nyoba MAN !!